Keluarga Selenium

Aku adalah anak ke-3 dari lima bersaudara. Perkenalkan, namaku Selenium. Kakakku yang pertama bernama Oksigen dan yang dua bulan diatas ku bernama Sulfur. Sedangkan kedua adik kembarku bernama Telurium dan Polonium, mereka sama-sama masih berumur lima tahun.

Kak Sulfur dan aku bersekolah di SMA Mendeleev. Kami satu jurusan, yaitu jurusan IPA namun berbeda kelas. Aku di kelas periode empat dan Kak Sulfur berada di kelas periode tiga. Kakak pertamaku sudah menjadi mahasiswi di Universitas Henry Moseley. Ia mengambil jurusan farmasi. Ya Kakakku yang satu ini sejak dulu memang sudah menunjukkan kemampuannya dibidang ilmu Kimia. Aku yang memang berbeda jauh kemampuannya dengan Kak Oksi, sering meminta bantuannya apabila ada tugas sekolah. Menurutku, lebih baik meminta bantuan kepada kak Oksi daripada dengan kak Sulfur. Pernah pada suatu hari aku menanyakan tugas kimiaku kepada Kak Sulfur, ya dia mengajariku dengan penuh keyakinan dan aku pun mempercayai segala apa yang dia ajari. Keesokan harinya, ternyata tugas itu mendapat nilai 2,3 dan ohh! betapa malunya aku dihadapan teman-teman kelasku. Sejak kejadian itulah, aku tak lagi mempercayakan tugas-tugasku kepada Kak Sulfur.

***

Tanggal 5 Oktober adalah tanggal dimana cerita kehidupan keluargaku menjadi sedikit bernuansa. Kami menemukan konflik-konfik yang tak pernah diduga sebelumnya. Pagi hari itu saat aku di kelas, masuklah siswa baru yang bernama Karbon. Terlihat dari penampilan luarnya dia tampak menarik. Tak disangka, aku dan Karbon menjadi sepasang sahabat.

Ketika Karbon berkunjung ke rumahku yaa.. untuk belajar bersama bahkan hanya untuk sekedar bermain, Kakakku Oksi ini sering terlihat caper alias cari perhatian kepada Karbon. Bukan jealous yaa tapi aku suka risih aja kalau Kak Oksi suka ikut-ikut nimbrung dengan kami.

Malam harinya, akhirnya aku memutuskan untuk menegur kak Oksi.

”Kak?”, panggilku irit.

”Apaan?”, jawab Kak Oksi sedikit sinis, karena merasa terganggu.

”Kakak kenapa sih, kalo aku sama Karbon lagi kumpul Kakak tuh suka ikut-ikutan nimbrung?! Mana pake acara manja-manja didepan Karbon lagi, kayak anak kecil aja”, jelasku langsung dengan penuh amarah terpendam.

”Ih sewot amat lu dek! Biasa aja kaleeeeee. Gue tanya sama elu, Karbonnya pernah sewot ga kalo gue suka ikut-ikut nimbrung? Hayo!? Buktinya Karbon malahan enjoy tuh kalo gue ada. Elu sirik yaa, kalo ada gue kan elu jadi dicuekin gitchuuu”, jawab Kak Oksi meledek.

”Please deh Kak Oksiiiiiiii, hellooooooooooooo! Kakak tuh udah tua, jangan ngarep deh sama Karbon. Lagian mana mau Karbon sama tante-tante. Ga laku yah lu Kak? Kasian banget ih! Kak Sulfur aja yang malah seangkatan sama gua, dia biasa-biasa aja tuh kalo ada Karbon di rumah. Eh, elu malah sok-sok caper!”, timbalku tak mau kalah dengan Kak Oksi.

”Eh apa-apaan sih Kak, Sel ribut-ribut gini?!!”, Kak Sulfur pun menegur melihat pertengkaran kami dan langsung melerai.

”Atuh itu Kak, aku suka risih Kak Oksi tuh suka ikut-ikutan nimbrung kalo Karbon main ke rumah!”, aku pun langsung mengadu kepada Kak Sulfur. Kak Oksi yang mendengar pengaduanku kepada kak Sulfur, malah memeletkan lidahnya kepadaku.

”Ih Kakak yah! Bukannya ajarin adeknya yang bener malah diledek-ledekin.”, bela Kak Sulfur kepadaku.

”Lagian emang bener sih pendapat Selen, ngapain juga Kakak suka sama berondong. Yaa, walaupun Karbon orangnya sopan dan menurut gue juga menarik. Tapi kalo Kakak sampe bener jadian sama Karbon, euhhhhhh… Kakak bisa jadi racun buat keluarga kita. Gak ada tuh dari silsilah keluarga kita untuk menjalin hubungan dengan berondong. Kalo sampe papah mamah tahu, ga bakal deh direstuin.”, jelas Kak Sulfur bijak.

”Ya! Dan gue juga gak setuju.”, timbalku menyetujui kata-kata Kak Sulfur.

”Kalian berdua ini nyebelin amat sih! Kakak kasih tau yah, Kakak tuh ngedeketin Karbon bukan karena Kakak suka sama Karbon! Kakak tuh lagi deket sama Kakaknya Karbon, temen kuliah gue. Puas?!!!”, Kak Oksi mengelurkan kalimat yang benar-benar membuat aku dan Kak Sulfur tercengang tak menduga begini jadinya.

”Jad.. jadi.. jadi Karbon punya Kakak dan Kakak tuh sukanya sama Kakaknya Karbon ?? gitu!?”, tanya aku terbata-bata kepada Kak Oksi.

”Iye. Ah elu gimana sih dek, katanya sahabatan sama Karbon tapi gatau kalo Karbon punya Kakak.”, jawaban Kak Oksi membuat aku mati telak.

”Iya maaf deh Kak… Karbon gak pernah cerita sebelumnya, lagian Kakak juga kenapa gak cerita kalo lagi deket sama Kakaknya Karbon? Kali aja aku bisa bantu-bantu sedikit.”, tuturku dengan raut penuh malu dan bersalah.

”Aku juga minta maaf yah Kak, udah lancang sama Kakak..”, Kak Sulfur pun merasa bersalah atas kata-katanya itu.

”Iyee udah Kakak maklumin. Sorry kalo Kakak gak cerita-cerita, karena menurut Kakak belum ada waktu yang tepat buat ceritain kedeketan Kakak sama Hidrogen Kakaknya Karbon”, jawab Kak Oksi kalem.

”Uhhhh Kakaaaaakkkkkkk maafin kita yahhhhhh”, aku dan Kak Sulfur tak sungkan-sungkan langsung memeluk Kakak tertua kita ini.

”Yee berarti kalo Kakak bisa jadian sama Hidrogen nih yah, keluarga kita bisa jadi tambah adem deh hihiiii”, ledek Kak Sulfur kepada Ka Oksi.

Semenjak kejadian itu, aku pun berinisiatif membuat peraturan baru di rumah ini. Yaitu, tidak boleh ada yang menyimpan rahasia sekecil apapun rahasia itu! Karena keluarga aku ini harus terdidik untuk saling terbuka dengan saudara sendiri. Deal !

>

2 thoughts on “Keluarga Selenium

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *